Tag: Lakukan

Galliani Tak Percaya Acerbi Lakukan Tindakan Rasis ke Jesus


Milan

Adriano Galliani tak percaya Francesco Acerbi melakukan tindakan rasis ke Juan Jesus. Keyakinan ini didasari karena Galliani mengenal betul Acerbi.

Francesco Acerbi dituduh melakukan tindakan rasis kepada Juan Jesus saat laga Inter Milan vs Napoli, Senin (18/3/2024). Acerbi sempat membantah tuduhan tersebut.

Namun bantahan Acerbi ini bikin Jesus geram. Pilar Napoli ini menjelaskan yang sebenarnya terjadi.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jesus mengungkap Acerbi sudah mengakui melakukan tindakan rasis dan meminta maaf kepadanya saat di lapangan. Bek asal Brasil ini sudah memaafkan dan berusaha melupakan tindakan tak terpuji Acerbi itu. Bantahan Acerbi ini bikin Jesus kembali bersuara.

Acerbi langsung dicoret dari Timnas Italia usai kasus tindakan rasisnya mencuat. Ia kini juga terancam hukuman larangan bermain selama 10 laga dari Federasi Sepakbola Italia (FIGC).

Meski begitu, Mantan petinggi AC Milan dan CEO Monza, Adriano Galliani, tak sepenuhnya percaya Acerbi melakukan tindakan rasis. Ia merasa hampir mustahil dengan kepribadian yang dimiliki Acerbi melakukan tindakan tersebut.

Hal ini didasari karena Galliani sangat mengenal sosok Acerbi. Pasalnya, Acerbi pernah bermain untuk AC Milan.

“Saya mengenal Acerbi secara pribadi dan tahu betul tentangnya. Hal itu sepertinya mustahil. Karena itu, saya tidak melihat itu terjadi dan saya tidak mengetahui secara pasti,” ujar Galliani dikutip dari Football Italia.

(pur/mrp)

Kisah Coach Justin Diajak Bersekongkol Lakukan Match Fixing

Bola.net – Persoalan match fixing kembali menjadi buah bibir pencinta sepak bola Indonesia belakangan ini. Hal tersebut tak lepas dari diumumkannya delapan tersangka pelaku match fixing, yang satu di antaranya adalah tokoh sepak bola nasional, Vigit Waluyo, oleh Kapolri, Listyo Sigit, Rabu (13/12).

Match fixing sendiri merupakan salah satu penyakit kronis di sepak bola Indonesia. Tindakan lancung ini bahkan disebut sudah terjadi sejak era 80-an.

Sejumlah tokoh disebut tersangkut dalam skandal ini. Ada juga yang terang-terangan mengaku pernah diajak ke dalam permufakatan lancung tersebut.

Salah satu tokoh yang mengaku sempat diajak untuk melakukan match fixing tersebut adalah Justinus Lhaksana. Pengamat sepak bola Indonesia ini pernah diajak bersekongkol melakukan match fixing ketika ia masih menangani Timnas Futsal Indonesia, beberapa waktu lalu.

Bagaimana selengkapnya kisah Coach Justin saat dibujuk dalam persekongkolan tersebut? Simak artikel di bawah ini.

1 dari 2 halaman

Ditawari Suap Ofisial Uzbekistan

Justin, dalam siniar Grind Boys di kanal Gofar Hilman, mengaku sempat hampir disuap ketika menangani Timnas Futsal Indonesia. Waktu itu, ia berstatus sebagai Direktur Teknik Timnas Futsal Indonesia pada sebuah ajang di Dubai, 2009 lalu.

Justin menuturkan, waktu itu, ia dihampiri oleh salah seorang ofisial Uzbekistan. Kepadanya, ofisial itu meminta agar Indonesia mengalah dengan skor 0-13.

“Karena kalau kita kalah 0-13, Uzbekistan nggak ketemu Iran. Mereka ingin menghindari Iran,” ucap Justin, dalam siniar tersebut.

Menurut Justin, ia tak secara langsung menolak upaya suap tersebut. Pria keturunan Belanda tersebut mengaku akan berdiskusi dulu dengan timnya.

“Dan, saya tahu bahwa tim saya tidak mau. Akhirnya, Uzbekistan bertemu Iran. Mereka akhirnya dibantai dan nggak lolos,” katanya.

2 dari 2 halaman

Keuntungan Berlipat Ganda

Lebih lanjut, Justin pun mengatakan bahwa match fixing ini bisa berhubungan erat dengan judi. Dengan melakukan match fixing, seseorang bisa mendapat keuntungan yang berlipat ganda dibanding uang yang harus dikeluarkan untuk menyuap.

“Nggak mungkin menyuap Rp100 juta, lalu cuma menang Rp200 juta,” tukas Coach Justin.

“Pasti menangnya Rp10 miliar,” ia menandaskan.

(Bola.net/Dendy Gandakusumah)


Keributan Suporter dan Insiden Gas Air Mata Terjadi Lagi, PSTI: Bukti PSSI Tak Lakukan Edukasi

Bola.net – Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) buka suara soal keributan suporter yang berujung insiden gas air mata usai laga Liga 2, antara Gresik United dan Deltras Sidoarjo, Minggu (19/11/2023). Mereka menyebut bahwa ini merupakan bukti bahwa PSSI tak melakukan edukasi, baik kepada suporter dan aparat keamanan.

“Pertama, ini membuktikan PSSI tidak melakukan edukasi terhadap suporter maupun aparat keamanan, yang bertugas dalam sebuah pertandingan,” kata Ketua Umum PSTI, Ignatius Indro.

“Pembentukan presidium suporter hanya bersifat pencitraan dan tidak menyentuh masalah sesungguhnya, terutama suporter di akar rumput,” sambungnya.

Menurut Indro, edukasi terhadap suporter ini sangat penting dan harusnya menjadi lamgkah konkret untuk dilakukan oleh PSSI dan Menpora. Apalagi, sambungnya, di Indonesia, sudah ada Undang-Undang Keolahragaan yang juga mengatur soal suporter.

“Namun, hingga saat ini, belum ada aturan turunan yang bisa memaksa seluruh stakeholder melakukan edukasi hingga ke akar rumput,” tutur Indro.

“Dengan adanya edukasi, diharapkan seluruh suporter bisa menjauhkan tindakan kekerasan dan menerima hasil pertandingan. Kalau ada hal-hal mencurigakan pun bisa dilakukan lewat cara yang baik dan benar,” imbuhnya.

Simak artikel selengkapnya di bawah ini.